Pengembangan Metode Pembelajaran Bidang Studi dengan Memanfaatkan, Membandingkan atau Menggabungkan Paradigma dan Teori Psikologi

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BIDANG STUDI DENGAN MEMANFAATKAN MEMBANDINGKAN ATAU MENGGABUNGKAN PARADIGMA DAN TEORI PSIKOLOGI

Oleh; Yusinta Dwi Ariyani


Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 mengenai Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, diuraikan bahwa: “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi. Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.” Sejalan dengan pendapat tersebut bahwa Pembelajaran adalah ”membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan” (Sagala, 2010: 61). Jadi dalam melakukan suatu pembelajaran perlu adanya suatu perencanaan, adanya interaksi kemudian penggunaan teori belajar yang tepat agar dapat mencapai hasil yang diharapkan atau mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran, salah satunya pada kegiatan pembelajaran diperlukan adanya pengembangan metode pembelajaran. Pengembangan metode pembelajaran di sini saya akan fokuskan pada metode pembelajaran Pendidikan Dasar. Di mana pada Pendidikan Dasar terutama anak usia sekolah dasar atau usia 6-12 Menurut Hurlock (2000) memiliki karakteristik sebagai berikut: Masa berkelompok dimana perhatian  utama anak-anak tertuju pada keinginan diterima kelompoknya; Proses penyesuaian diri dengan standar yang disetujui kelompoknya; Usia kreatif, menunjukkan bahwa anak ketika tidak dihalangi oleh rintangan rintangan lingkungan, kritik, cemoohan dari orang dewasa maka anak akan mengerahkan tenaganya dalam kegiatan kegiatan yang kreatif; Usia bermain karena luasnya minat anak. Selain itu dari segi perkembangan kognitif menurut teorinya Piaget (Bujuri, 2018: 49), pada anak usia dasar, perkembangan kognitif anak terbagi menjadi dua fase yaitu pertama fase operasional konkret (usia 7-11 tahun) adalah fase dimana anak sudah bisa berfikir logis, rasional, ilmiah dan objektif terhadap sesuatu yang bersifat konkret atau nyata. Pada fase ini, dalam KBM, guru mesti memberikan materi pembelajaran yang bersifat empirik (nyata) bukan yang bersifat abstrak atau khayal. Proses KBM yang dilakukan mesti dikontekstualisasikan dalam kehidupan nyata, misalnya dengan menghadirkan contoh langsung dari materi yang dipelajari (modeling) dan melakukan praktek langsung (eksperimen). 

Pembelajaran akan efektif jika guru memiliki pengetahuan yang baik mengenai teori belajar dan perkembangan anak, sehingga guru dapat menilai secara akurat mengenai pembelajaran yang akan dilakukan. Setelah memahami karakteristik tersebut maka diperlukan pengembangan metode pembelajaran yang sesuai untuk anak SD yaitu pembelajaran yang kreatif, kritis, inisiatif, konkret, menyenangkan, bersifat kolaboratif (ada interaksi/dialogis), bermakna, holistik dan kontekstual serta membangun. 

Pengembangan metode pembelajaran konstruktivisme sangat cocok diterapkan pada Pendidikan dasar, karena pada metode pembelajaran kontruktivisme menganut 2 ide utama yaitu adanya pembelajaran aktif dalam mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri, dan bahwa interaksi sosial penting bagi pengkonstruksian pengetahuan (Bruning, Schraw, Norby & Ronning, 2004: 195). Konstruktivisme memandang belajar lebih dari sekedar menerima dan memproses informasi yang disampaikan oleh guru atau teks. Alih-alih pembelajaran adalah konstruksi pengetahuan yang bersifat aktif dan personal (De Kock, Sleegers, dan Voeten, 2004). Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Von Glaserfeld (1987), pendiri gerakan konstruktivis, konstruktivisme berakar pada asumsi bahwa pengetahuan, tidak peduli bagaimana pengetahuan itu didefinisikan, terbentuk di dalam otak manusia, dan subjek yang berpikir tidak memiliki alternatif selain mengkonstruksikan apa yang diketahuinya berdasarkan pengalamannya sendiri. Semua pikiran kita didasarkan pada pengalaman kita sendiri, dan oleh karenanya bersifat subyektif. Pada kontruktivisme siswa menjadi lebih aktif dan inisiatif dalam membangun pengetahuannya. Siswa secara aktif mengkontruksikan belajarnya dari berbagai macam input yang diterimanya, karena pada dasarnya kontruktivisme adalah pencarian makna. Siswa aktif berusaha mengkontruksikan makna sehingga guru hanya menjadi fasilitator dengan menyajikan kegiatan belajar mengajar yang mengekplorasi siswa sehingga memungkinkan siswa untuk mengkontruksikan makna. Oleh karena itu, pembelajaran yang dilakukan bukan tentang memperoleh jawaban benar tanpa memahami konsepnya tetapi bagaimana membantu siswa mengkontruksikan makna mereka sendiri (Muijs & Reynolds, 2009). Keberhasilan belajar bukan hanya tergantung pada lingkungan atau kondisi belajar melainkan juga pada pengetahuan awal siswa. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata. Hal ini sesuai dengan pendapat Ausubel yang dikutip oleh Bodner (1986):

To learn meaningfully, individuals must choose to relate new knowledge to relevant concept and proportions they already know. In rote learning ....new knowledge may be acquired simply by verbatim memorization and arbitrarily incorporated into a person’s knowledge structure without interacting with what is already there.

Menurut Piaget dan Vygostky seperti yang dikutip Kauchak, et al., (2000) dalam buku Learning and Teaching, ada empat kunci pokok pembelajaran menurut model pembelajaran konstruktivisme, yaitu: Siswa lebih banyak menyusun pemahaman mereka, daripada mendapatkannya dengan cara diperoleh langsung dari guru; pengetahuan yang baru dimiliki siswa, tergantung dari pemahaman siswa tentang materi pelajaran yang diperoleh sebelumnya; pembelajaran disertai dengan interaksi sosial keilmuan; dan tugas-tugas pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran, mendukung pembelajaran yang berguna bagi siswa.

Anak-anak belajar dengan paling baik dengan menyelesaikan berbagai konflik kognitif (konflik dengan berbagai ide dan konsepsi lain) melalui pengalaman, refleksi, dan metakognisi (Beyer, 1985). Jadi siswa pembelajaran kontruktivisme siswa mencari tahu tentang yang dipelajarinya dan menyimpulkan konsep dan ide baru dengan pengetahuan yang sudah ada dalam dirinya atau berdasarkan pengalaman dan informasi yang dimilikinya sehingga pembelajaran menjadi meaningfullDi sini guru sebaiknya menajadi fasilitator. Dimana guru bukan satu-satunya sumber belajar. Siswa diberi ruang gerak yang bebas untuk menemukan informasi, ide, atau gagasan. 

Selain itu adanya interaksi sosial menjadi salah satu ide utama dari kontruktivisme.  Kontruktivisme menyoroti interaksi orang-orang dan situasi-situasi dalam penguasaan dan penyempurnaan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan. Kontruktivisme memiliki asumsi yangsama dengan teori kognitif sosial yang mengarahkan bahwa orang, perilaku, dan lingkungan saling berinteraksi secara timbal balik. Adapun asumsi-asumsi dari kontruktivisme adalah pertama,  manusia merupakan siswa aktif yang mengembangkan pengetahuan bagi diri mereka sendiri. Di mana siswa diberikan keluasan untuk mengembangkan ilmu yang sudah didapatkan tersebut, baik dengan melakukan latihan, melakukan eksperimen maupun berdiskusi sesama siswa. Dengan hal seperti itu maka ilmu-ilmunya tersebut akan berkembang dan bertambah. Kedua. Guru sebaiknya tidak mengajar dalam artian menyampaikan pelajaran dengan cara tradisional kepada sejumlah siswa. Guru seharusnya membangun situasisituasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dengan materi pelajaran melalui pengolahan materi-materi dan interaksi sosial. (Schunk, 2012: 323. Seperti yang disampaikan oleh Paris, Byrnes, & Paris (2001) bahwa Meletakkan belajar dalam konteks sosial dan kultural disebut "Konstruktivisme Gelombang Kedua". Interaksi sosial bisa diwujudkan atau dioptimalkan dengan adanya pembelajaran yang kooperatif & kolaboratif. 

Metode cooperative learning dapat memotivasi peserta didik untuk berfikir kritis sekaligus dialogis, kreatif dan interaktif yakni problem solving atau pengajuan masalah-masalah yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan. Permasalahan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian diupayakan untuk dicari jawabannya baik secara individu maupun bersama. Penerapan Metode cooperative learning ini tidak hanya memudahkan peserta didik untuk memahami materi yang akan guru sampaikan, namun juga akan dapat menguatkan akidah akhlak serta keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. (Santoso dkk, 2019, 1). Pembelajaran kooperatif & kolaboratif menjadikan anak berdialog atau berinteraksi satu sama lain dalam membangun pengetahuannya. Hal ini diperkuat oleh pendapatnya Freire (2013) yang menyatakan bahwa pembelajaran itu harus bersifat dialogis bukan antidialogis karena dialog merupakan esensi yang harus mendasari setiap pembelajaran. Dengan adanya dialog siswa akan dapat menyampaikan gagasan kritisnya, tidak hanya diam menerima pembelajaran begitu saja. Sehingga siswa yang memiliki kesadaran kritis yang luar biasa yang nantinya akan mampu menghadapi dan menyelesaikan permasalahan realita yang ada. bahwa dialog bukan hanya sekedar percakapan tetapi disitu ada unsur rasa menghormati satu sama lain. Maka di dalam berdialogpun harus ada rasa saling cinta, kasih sayang, kerendahan hati, kejujuran dan keyakinan sehingga tercipta hubungan yang humanis. 

Guru sebaiknya memfasilitasi model pembelajaran yang bersifat kooperatif dan kolaboratif. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang didasarkan faham konstruktivis yang berpandangan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan secara sadar strateginya sendiri dalam belajar, sedangkan guru membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi (Slavin, 1994; Abruscato, 1999). Hal ini diperkuat pendapatnya Barbara Lubbe (1992: 45) Cooperative learning is a successful teaching strategy in which small teams, each with students of different level of ability, use a variety of learning activities to improve their understanding of a subject. Each member of a team is responsible not only for learning what is taught but also for helping teammates leam, thus creating an atmosphere. Berdasarkan pernyataan tersebut bahwa tiap  anggota kelompok merespon bukan saja materi pelajaran yang diajarkan tetapi juga membantu belajar anggota tim lainnya agar berkreasi dalam suasana kondusif.

Pembelajaran kooperatif difokuskan terhadap penggunaan kelompok kecil peserta didik untuk bekerja sama dalam mengoptimalkan kondisi belajar agar mencapai capaian pembelajaran. Maka dengan pembelajaran tersebut akan selalu ada dialog, kepekaan dan keterampilan sosial karena adanya kerja sama dalam pembelajaran. Pembelajaran kooperatif ini juga menekankan adanya ketergantungan positif sehingga antar anggota kelompok saling membantu, tidak mementingkan diri sendiri dan memberi motivasi sehingga ada interaksi (dialog) yang bersifat promotive. Pada pembelajaran kooperatif peserta didik menjadi mampu memandang masalah dan situasi dari berbagai perspekstif. Hal ini akan membuat budaya belajar yang dialogis kritis. Salah satu yang diusulkan oleh Freire (2013) mengenai pembelajaran yang berbasis dialog ini adalah pembelajaran hadap masalah atau pembelajaran yang berbasis masalah/kasus. Dengan pembelajaran berbasis masalah ini akan merealisasikan kebutuhan siswa dalam berfikir aktif, kritis, mampu memecahkan masalah yang dihadapi dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan. 

DAFTAR PUSTAKA

Beyer BK (1985). Critical Thinking:What is it? Social Education, 49:270-276.

Bodner, G.M. 1986. Constructivism: A theory of knowledge. Journal of Chemical Education.

63. 873-878.

 

Bujuri, Dian Andesta. 2018. Analisis Perkembangan Kognitif Anak Usia Dasar dan

Implikasinya dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Jurnal Literasi. Vol IX, No. 1. Hal

37-50.

 

Bruning, R., Schraw, G., Norby, M., & Ronning, R. (2004). Cognitive psychology and

instruction. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.

Depdiknas.2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 41 Tahun 2007 Tentang       Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.           Jakarta:DepdiknasHaryanto. 2008. Model Pembelajaran PAKEM Sekolah Dasar

De Kock, A., Sleegers, P., and Voeten, M.J.M. (2005). New learning and choices of secondary

school teachers when arranging learning environments. Teaching and Teacher

Education, 21, 799-816.

 

Freire, Paulo. 2013. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: PustakaLP3ES Indonesia.

Hurlock EB. Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta: Erlangga; 2000. 

Kauchak, P.D., & Paul, D.E. 2000. Strategies for Teaching Content and Thinking Skills,

Boston: Allin and Bacon.

 

Muijs, Daniel, & Renold, F.(2009) Effectiveness and disadvantage in education. Can a focus

on effectiveness aid equity in education?. In, Raffo, Carlo, Dyson, Alan, Gunter, Helen,

Hall, Dave, Jones, Lisa and Kalambouka, Afroditi (eds.) Education and Poverty in

Affluent Countries. Abingdon, GB, Routledge

 

Paris, S. G., Byrnes, J. P., & Paris, A. H. (2001). Constructing theories, identities, and actions

of selfregulated learners.In B. Zimmerman & D. Schunk (Eds.), Self-regulated learning

and academic achievement (pp. 253–287). New York: SpringerVerlag.

Sagala, S. (2010). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. 

Santoso dkk. 2019. Pembelajaran Akidah Akhlak dengan Strategi Cooperative Learning. Al

Idarah: Jurnal Kependidikan Islam. Volume 9 Nomor 1. Hal 1-10.

 

Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories An Education Perspective, Di Terjemahkan Oleh

Eva Hamdiah, Rahmat Fajar, Dengan Judul Teori-Teori Pembelajaran Perspektif

Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Slavin, Robert E. (2016), Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik, Bandung:Nusa

Media.

 

Von Glasersfeld, E. (1987). The Construction of knowledge: Contributions to conceptual

semantics.Seaside, CA: Intersystems Publications.

 

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

Jl. Brawijaya No.99, Jadan, Tamantirto, Kec. Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55183 C

Work Time:

Monday - Friday from 8am to 5pm

Phone:

(0274) 4342288

Yusinta Dwi Ariyani Filsafat

Diberdayakan oleh Blogger.

REFERENSI MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN

 REFERENSI MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN Oleh Yusinta Dwi Ariyani Universitas Alma Ata Royce's, J., 1892, The Spirit of Modern Philoso...