Filsafat Pendidikan (PAS9201)

Blog ini berisi seputar kajian filsafat pendidikan di sekolah dasar yang dikaji berdasarkan kajian ontologi, epistomologi dan aksiologi. Tujuan dari pembuatan blog ini adalah sebagai salah satu pemenuhan tugas mata kuliah filsafat pendidikan program studi pendidikan dasar S3 Universitas Negeri Yogyakarta

Find Out More Purchase Theme

Our Service

Deskripsi Mata Kuliah

Bagian ini berisi deskripsi dari mata kuliah filsafat pendidikan.

Read More

Tujuan Mata Kuliah

Bagian ini berisi tujuan dari mata kuliah filsafat pendidikan.

Read More

Tugas Mata Kuliah

Bagian ini berisi tugas-tugas yang diberikan pada mata kuliah filsafat pendidikan.

Read More

Referensi Mata Kuliah

Bagian ini berisi referensi atau literatur yang digunakan dalam mata kuliah filsafat pendidikan.

Read More

Recent Work

FILSAFAT PENDIDIKAN IPS DI SD KELAS RENDAH (KELAS I, II, III)

FILSAFAT PENDIDIKAN IPS DI SD KELAS RENDAH (KELAS I, II, III)



FILSAFAT PENDIDIKAN IPS DI SD KELAS
RENDAH (KELAS I, II, III)


Oleh 
Yusinta Dwi Ariyani

BAB I
PENDAHULUAN

Pada ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral atau pokok, kenapa bisa dikatakan demikian? Karena filsafatlah yang mula-mula merupakan satu-satunya usaha di bidang keohanian untuk mencapai kebenaran atau pengetahuan. (Setyono & Mardi, 2018). Maka filsafat merupakan suatu kebijaksanaan hidup manusia untuk memberikan suatu pandangan hidup yang menyeluruh berdasarkan refleksi atas pengalaman hidup maupun ilmiah. Sedangkan dalam pengembangan proses pendidikan membutuhkan akal dan pola pikir yang baik dalam upaya mencerdaskan manusia dari kebodohan. Oleh karena itu manusia harus mampu berfilsafat dalam dunia pendidikan. Mampu menjalankan proses pendidikan dengan menggunakan ilmu pengetahuan. Salah satu ilmu pengetahuan yang akan kita kaji dalam hal ini adalah pendidikan ilmu pengetahuan sosial (IPS). 

Filsafat Pendidikan IPS merupakan  praktik tentang pendidikan ilmu-ilmu sosial agar peserta didik mampu memahami masalah-masalah sosial dan dapat mengatasinya serta mengambil keputusan yang tepat terhadap masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. (Gunawan, 2013). Pendidikan IPS bertujuan membina anak didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki pengetahuan dan kepedulian sosial yang berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara (Soemaatmaja, 2006). Hal ini juga didukung oleh Omear Hamalik (1992) bahwa tujuan Pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku para siswa, yaitu (1) pengetahuan dan pemahaman (2) sikap hidup belajar (3) nilai-nilai sosial dan sikap (4) keterampilan. Maka dapat disimpulkan. Pendidikan IPS bukan sekedar mensistesiskan konsep-konsep yang relevan antara ilmu-ilmu pendidikan dan ilmu-ilmu sosial, tetapi juga mengkorelasikan dengan masalah-masalah kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan. Sehingga dalam hal ini Pendidikan IPS sangatlah penting diajarkan pada tingkat Sekolah Dasar terutama pada SD kelas rendah. Oleh karena itu, perlu dikaji tentang Pendidikan IPS SD di kelas rendah dari perspektif filsafat berdasarkan konsep dari ontologis, epistemologis, dan aksiologis

  1. Bagaimana studi ontologi pada Pendidikan IPS SD di kelas rendah
  1. Bagaimana studi epistemologi pada Pendidikan IPS SD di kelas rendah
  1. Bagaimana studi aksiologi pada Pendidikan IPS SD di kelas rendah.

  

BAB II
PEMBAHASAN

Pada Pendidikan Sekolah Dasar ada beberapa ilmu, salah satunya adalah ilmu pengetahuan social (IPS).  IPS disebut sebagai bidang keilmuan yang sangat dinamis, karena mempelajari keadaan masyarakat yang cepat perkembangannya. Pengembangan kurikulum IPS merupakan jawaban dari tuntutan kebutuhan masyarakat yang akan mempelajarinya, Perkembangan kurikulum IPS tampak mulai dari istilah yang digunakan pada setiap kurikulum, dan isi materi yang dimuat dalam setiap kurikulum, serta pendekatannya. 

Disiplin-disiplin ilmu sosial yang dikembangkan dalam kurikulum pendidikan IPS di Indonesia biasanya terdiri dari disiplin ilmu ekonomi, sejarah, geografi, sosiologi, politik, hukum dan pendidikan kewarganegaraan. Hermanto (2009) Pendidikan  IPS  bersumber  pada  (a) disiplin   ilmu-ilmu   social,   humaniora      dan kegiatan      dasar     manusia,      (b)      Ilmu  Pengetahuan alam untuk metode berpikir; (c) disiplin    Ilmu    Pendidikan    dan    Psikologi  Pendidikan untuk teori belajar mengajarnya. Pada tingkat sekolah dasar diberikan materi pendidikan IPS yang dikemas secara terpadu dengan mengambil tema-tema yang berkaitan dengan bidang sosial. (Supriatna Mulyani, Rokhayati, 2010). 

Untuk mengetahui atau menelusuri Pendidikan IPS SD dalam filsafat ilmu, maka Pendidikan IPS SD harus mampu menjawab beberapa pertanyaan yaitu obyek apa yang ditelaah oleh Pendidikan IPS (Ontologi), Bagaimana proses terjadinya genaralisasi teori dalam Pendidikan IPS (Epistemologi), dan untuk apa Pendidikan IPS akan digunakan (Aksiologi). Maka pembahasan mengenai Filsafat Pendidikan IPS SD dalam hal ini yaitu: 

 

A.   Studi Ontologi Pada Pendidikan IPS SD Kelas Rendah

Ontologi merupakan bagian filsafat yang paling umum, atau merupakan bagian dari metafisika. Ontologi dapat didefinisikan sebagai "studi tentang keberadaan, berkaitan dengan “dunia seperti apa kita ini menyelidiki, dengan sifat keberadaan, dengan struktur realitas seperti itu " (Crotty, 1998). Ontologis adalah asumsi untuk menjawab pertanyaan ‘ada apa di sana dikenal? "atau" apa sifat realitas? (Guba, Egon & Lincoln, 1994). Kajian filsafat yang berusaha mengungkap apa dan mengapa. Jadi ontology dapat dikatakan yang mendasari suatu ilmu, yang memberikan pemahaman awal sebelum seseorang mempelajari lebih lanjut tentang ilmu pengetahuan. Melalui ontologi, pemahaman dan ide awal tentang ilmu pengetahuan dapat mengerti. 

Jadi ontology dalam IPS adalah mengenai hakekat substansi tentang apa dan mengapa IPS Sekolah Dasar itu. National  Council   for   Social   Studies   (NCCS, 2003)  mendefinisikan studi social:

 

...the  integrated  study  of  the social  sciences  and  humaities  to  promote  civic  competence.  Within  the  school  program,  social  studies provides   coordinated,   systematic study       drawing       upon       such  disciplines        at        anthropology, archeology, economics, geography, history,   law,   philosophy,   political  science,  psychology,  religion  and sociology,  as  well  as  appropriate  content     from     the     humanities, mathematics, and natural science.  

Barr, Barth & Shermis (1978) The committee on the social of the national education on asociation’s and reorganisation of secondary education in 1916 menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan sosial (social studies) ialah mata pelajaran yang menggunakan bahan ilmu-ilmu sosial untuk mempelajari hubungan manusia dalam masyarakat dan manusia sebagai anggota masyarakat.

Ilmu yang disajikan dalam pendidikan IPS merupakan Synthetic antara ilmu-ilmu sosial dengan ilmu pendidikan untuk tujuan pendidikan. Ilmu yang dikembangkan dalam pendidikan IPS merupakan hasil seleksi, adaptasi. Dan modifikasi dari hubungan antar disiplin ilmu pendidikan dan ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan. Mengenai karakteristik pendidikan IPS sebagai syhthetic discipline disebabkan pendidikan IPS bukan hanya harus mampu mensintesiskan konsep-konsep yang relevan antara ilmu-ilmu pendidikan dan ilmu-ilmu sosial, melainkan juga tujuan pendidikan dan pembangunan serta masalah-masalah sosial dalam hidup bermasyarakatpun akan menjadi pertimbangan bahan pendidikan IPS (somantri, 2001). Berdasarkan kurikulum 2013 IPS untuk Pendidikan Dasar (SD) IPS disajikan secara tematik, untuk tingkat SMP IPS disajikan secara terpadu, sedangkan untuk tingkat SMA IPS diberikan sebagai mata pelajaran yang terpisah yag terdiri dari Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi dan Antropologi. Gunawan (2013) Pendidikan IPS SD merupakan suatu kajian yang terpadu yang merupakan penyerderhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, dan ekonomi. Jadi Pendidikan IPS SD merupakan kajian ilmu yang terintegrasi dalam disiplin ilmu-ilmu social yang bersifat menyeluruh (holistik) yang materinya diambil dari rumpun ilmu social yang disesuaikan dengan lingkup keadaan social masyarakat.Ruang Lingkup dari Pendidikan IPS mencakup 4 aspek yaitu: 

Sistem sosial dan budaya, meliputi: individu, keluarga, dan masyarakat, sosiologi, sebagai ilmu dan metode, interaksi social, sosialisasi, pranata social, struktur sosial, kebudyaan dan perubahan social budaya.

  1. Manusia, tempat dan lingkungan, meliputi: sistem informasi geografi, interaksi gejala fisik dan social, struktur internal suatu tempat/wilayah, dan interaksi keuangan, serta persepsi lingkungan dan kewilayahan.
  2. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan, meliputi: ketergantungan, spesialisasi, pembagian kerja, perkoperasian dan kewirausahaan serta pengelolaan keuangan.
  3. Waktu berkelanjutan dan perubahan meliputi: dasar-dasar ilmu sejarah, fakta peristiwa dan proses. (Muchtar, 2007)

Ruang lingkup Pendidikan IPS SD (Wahab, 2009) dibatasi pada gejala dan masalah social yang mampu menjangkau pada geografi dan sejarah. Hal itupun diutamakan pada gejala dan masalah social sehari-hari yang ada di lingkungan siswa.

Bruce joyce mengemukakan 3 tujaun IPS SD yaitu:

  1. Humanistic education: diharapkan IPS mampu membentuk anak didik Untuk memahami segala pengalamannya serta diharapkan lebih mengerti tentang arti kehidupan ini.
  2. tizenship education: setiap anak didik harus dipersiapkan untuk mampu Berpartisipasi secara efektif di dalam dinamika kehidupan masyarakatnya. masyarakat diliputi segala aktivitas yang menyandarkan setiap warganegara untuk bekerja secara benar dan penuh tanggungjwab demi kemajuannya.
  3. Intellectual education: tiap anak didik ingin memperoleh cara dan sarana untuk mengadakan analisis terhadap gagasan-gagasan serta mengadakan pemecahan masalah seperti yang telah dikembangkan oleh ahli-ahli ilmu sosial. Bersamaan dengan pertumbuhan kemamapuannya, anak didik seharusnya belajar untuk menjawab sebanyak mungkin pertanyaan serta menguji data secara kritis dalam berbagai situasi social. (Endayani, 2017).

 


Mata Pelajaran

Jenjang Pendidikan

 

 

 

 

IPS

(Sumber: Paskur 2010)

Kelas Rendah (1-3)

Kelas Tinggi (4-6)

 Religius

 Toleransi

 Kerja keras

 Kreatif

 Bersahabat/komunikatif

 Kasih sayang

 Rukun(persatuan)

 Tahu diri

 Penghargaan

 Kebahagiaan

 Kerendahanhati

 Religius

 Toleransi

 Disiplin

 Kreatif

 Demokratis

 Rasa ingintahu

 Semangat kebangsaan

 Menghargai prestasi

 Bersahabat

 Senang membaca

 Peduli lingkungan

 

Selain dari nilai-nilai tersebut, Pendidikan IPS juga mengandung nilai lainnya, karena IPS memang sarat akan nilai-nilai seperti nilai teoritis, nilai praktis, nilai edukatif dan nilai ketuhanan. (Sumaatmadja, 1984).

Nilai Teoritis: Pendidikan IPS tidak hanya menyajikan dan membahsa kenyataa, fakta dan data yang terlepas-lepas melainkan lebih jauh dari itu yakni menelaah keterkaitan aspek kehidupan sosial dengan yang lain. Peserta didik dibina dan dikembangkan daya nalarnya kearah dorongan mengetahui  sendiri kenyatan (sense of reaslity) dan dorongan menggalu sendiri di lapangan (sense of dicovery). Kemampuan menyelidiki dan meneliti dengan mengajukan berbagai pertanyaan (sense of inquiry) mereka bina dan kembangkan.

Nilai Praktis, Pokok bahasan IPS jangan hanya tentang pengetahuan yang konseptual teoritis belaka, melainkan digali dari kehidupa sehari-hari. Nilai praktis disesuaikan dengan tingkat usia dan kegiatan peserta didik sehari-hari. Pengathuan praktis tersebut bermanfaat untuk mehadapi permasalahan kehidupan sehari-hari. 

Nilai Edukatif, Salah satu tolak ukur keberhasilan pelaksanaan Pendidikan IPS Sd yaitu adanya perubahan tingkah laku sosial peserta didik kea rah yang lebih baik. Perilaku tersebut meliputi aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Peningkatan kogniti dalam hal ini tidak hanya terbatas makin meningkatnya pengetahuan sosial, melainkan pula peningkatan nalar sosial dan kemampuan secara alternatif-alternatif pemecahan masalah sosial. 

Nilai Ketuhanan, Pendidikan IPS dengan ruang lingkup cakupan yang sangat luas, menjadi landasan kuat bagi penanaman dan pengembangan nilai ketuhanan yang menjadi kunci kebahagiaan kita. Baik lahir maupun batin. Nilai ketuhanan ini menjadi landasan moralitas SDM masa kini dan masa yang akan datang.

 

 

BAB III
KESIMPULAN

 

Aspek ontologis memberikan landasan teoretis-filosofis kepada Pendidikan IPS SD tentang apa yang menjadi wilayah kajian atau objek-objek telaah Pendidikan IPS dalam rangka pembentukan dan pengembangan tubuh pengetahuan (body of knowledge): (1) Pendidikan IPS sebagai disiplin ilmu; dan (2) Pendidikan IPS sebagai program pendidikan terintegrasi. 

Aspek epistemologis memberikan landasan teoretis-filosofis kepada Pendidikan IPS SD tentang bagaimana proses atau metode berpikir dalam pembentukan, penyampaian, dan penyusunan tubuh pengetahuan tentang ”kebenaran” (truth) Pendidikan IPS sebagai disiplin dan program pendidikan. “kebenaran” yang dicari di dalam pendidikan IPS ialah kebenaran yang tidak lepas dari masalah-masalah praktis terkait dengan kehidupan masyarakat, dan kegiatan dasar manusia di “tiga lingkaran pusat” pendidikan, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat,

Landasan aksiologis memberikan landasan teoretis-filosofis kepada Pendidikan IPS SD tentang apa manfaat, hakekat nilai kegunaan teoris dan praktis ilmu Pendidikan IPS  SD sebagai disiplin dan program pendidikan terintegrasi. Secara aksiologis struktur konseptual dan sintaktik Pendidikan IPS, harus sesuai dengan sasaran/tujuan yang dipilih dan disepakati (sebagai disiplin atau program Pendidikan) : relevan untuk setiap jenjang Pendidikan. 

 
DAFTAR PUSTAKA

Bahrum. (2013). Ontologi, Epistimologi, Aksiologi. Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman8(2), 36–45. 

 

Barr, Barth & Shermis. 1978. Konsep Dasar Studi Sosial. Bandung: Sinar Baru.

 

Crotty, M. 1998. The Fondation of Social Research, Meaning and perspective in

research progress,Printed by KHL, Printing Co. Pte Ltd, Singapore.

 

Depdiknas RI. 2006. Peraturan Mendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.

Jakarta:Depdiknas.

 

Endayani, Henni. 2017. Pengembangan Materi Ajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Jurnal Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Vol. 1. No.1. Hal 92-111.

 

Fatimah, Siti. 2015. Pembelajaran IPS. Padang: UNP.

 

Guba, Egon G & Lincoln. 1994. Competing Paradigms in Qualitative Research Dalam Denzin (Eds). Handbook of Qualitative Research. Sage Publication Thousan Oaks. London.

 

Gunawan, Rudi. 2013. Pendidikan IPS Filosofi, Konsep dan Aplikasi. Bandung: Alfabeta.

 

Hamalik, Oemar. 1992. Administrasi dan Supervisi Pengembangan Kurikulum. Bandung: CV. Mandar Maju.

 

Hermanto. 2009. Landasan Filsafat Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Jurnal region. Vol 1. No.1. Hal 1-17.

 

Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.2010.


Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai Nilai Budaya Untuk Membentuk Daya Saing Dan Karakter Bangsa. Pengembangan Pendidikan dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kemendiknas.

 

Muchtar, (2007). Strategi Pembelajaran Pendidikan IPS. Bandung: SPS UPI.

 

Sapria. 2008. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: Laboratorium PKn UPI. 

 

Setyono dan Mardi. 2018. Filsafat Pendidikan Vokasi, Yogyakarta: Deepublish.

 

Suaedi. 2016. Pengantar Filsafat Ilmu. Bogor: IPB Press.

 

Sumaatmadja, Nursid.(1984). Metodologi Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung :

Alumni

 

Sumaatmadja, Nursid. 2006, Metodologi Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS),

Bandung: Alumni. 

 

Somantri, Numan. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Rosdakarya.

Supriatna, Mulyani, Rokhayati. 2010. Pendidikan IPS SD. Bandung: UPI Press.

Wahab, Abdul Aziz. 2009. Metode dan Model-model Mengajar IPS. Bandung: Alfabeta.



 

 

YUSINTA DWI ARIYANI FILSAFAT

YUSINTA DWI ARIYANI FILSAFAT

YUSINTA DWI ARIYANI FILSAFAT

YUSINTA DWI ARIYANI FILSAFAT

YUSINTA DWI ARIYANI FILSAFAT

YUSINTA DWI ARIYANI FILSAFAT

YUSINTA DWI ARIYANI FILSAFAT

YUSINTA DWI ARIYANI FILSAFAT

FILSAFAT YUSINTA DWI ARIYANI

FILSAFAT

YUSINTA DWI ARIYANI

YUSINTA DWI ARIYANI FILSAFAT PENDIDIKAN  

 



 

Pengembangan Metode Pembelajaran Bidang Studi dengan Memanfaatkan, Membandingkan atau Menggabungkan Paradigma dan Teori Psikologi

Pengembangan Metode Pembelajaran Bidang Studi dengan Memanfaatkan, Membandingkan atau Menggabungkan Paradigma dan Teori Psikologi

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BIDANG STUDI DENGAN MEMANFAATKAN MEMBANDINGKAN ATAU MENGGABUNGKAN PARADIGMA DAN TEORI PSIKOLOGI

Oleh; Yusinta Dwi Ariyani


Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 mengenai Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, diuraikan bahwa: “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi. Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.” Sejalan dengan pendapat tersebut bahwa Pembelajaran adalah ”membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan” (Sagala, 2010: 61). Jadi dalam melakukan suatu pembelajaran perlu adanya suatu perencanaan, adanya interaksi kemudian penggunaan teori belajar yang tepat agar dapat mencapai hasil yang diharapkan atau mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran, salah satunya pada kegiatan pembelajaran diperlukan adanya pengembangan metode pembelajaran. Pengembangan metode pembelajaran di sini saya akan fokuskan pada metode pembelajaran Pendidikan Dasar. Di mana pada Pendidikan Dasar terutama anak usia sekolah dasar atau usia 6-12 Menurut Hurlock (2000) memiliki karakteristik sebagai berikut: Masa berkelompok dimana perhatian  utama anak-anak tertuju pada keinginan diterima kelompoknya; Proses penyesuaian diri dengan standar yang disetujui kelompoknya; Usia kreatif, menunjukkan bahwa anak ketika tidak dihalangi oleh rintangan rintangan lingkungan, kritik, cemoohan dari orang dewasa maka anak akan mengerahkan tenaganya dalam kegiatan kegiatan yang kreatif; Usia bermain karena luasnya minat anak. Selain itu dari segi perkembangan kognitif menurut teorinya Piaget (Bujuri, 2018: 49), pada anak usia dasar, perkembangan kognitif anak terbagi menjadi dua fase yaitu pertama fase operasional konkret (usia 7-11 tahun) adalah fase dimana anak sudah bisa berfikir logis, rasional, ilmiah dan objektif terhadap sesuatu yang bersifat konkret atau nyata. Pada fase ini, dalam KBM, guru mesti memberikan materi pembelajaran yang bersifat empirik (nyata) bukan yang bersifat abstrak atau khayal. Proses KBM yang dilakukan mesti dikontekstualisasikan dalam kehidupan nyata, misalnya dengan menghadirkan contoh langsung dari materi yang dipelajari (modeling) dan melakukan praktek langsung (eksperimen). 

Pembelajaran akan efektif jika guru memiliki pengetahuan yang baik mengenai teori belajar dan perkembangan anak, sehingga guru dapat menilai secara akurat mengenai pembelajaran yang akan dilakukan. Setelah memahami karakteristik tersebut maka diperlukan pengembangan metode pembelajaran yang sesuai untuk anak SD yaitu pembelajaran yang kreatif, kritis, inisiatif, konkret, menyenangkan, bersifat kolaboratif (ada interaksi/dialogis), bermakna, holistik dan kontekstual serta membangun. 

Pengembangan metode pembelajaran konstruktivisme sangat cocok diterapkan pada Pendidikan dasar, karena pada metode pembelajaran kontruktivisme menganut 2 ide utama yaitu adanya pembelajaran aktif dalam mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri, dan bahwa interaksi sosial penting bagi pengkonstruksian pengetahuan (Bruning, Schraw, Norby & Ronning, 2004: 195). Konstruktivisme memandang belajar lebih dari sekedar menerima dan memproses informasi yang disampaikan oleh guru atau teks. Alih-alih pembelajaran adalah konstruksi pengetahuan yang bersifat aktif dan personal (De Kock, Sleegers, dan Voeten, 2004). Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Von Glaserfeld (1987), pendiri gerakan konstruktivis, konstruktivisme berakar pada asumsi bahwa pengetahuan, tidak peduli bagaimana pengetahuan itu didefinisikan, terbentuk di dalam otak manusia, dan subjek yang berpikir tidak memiliki alternatif selain mengkonstruksikan apa yang diketahuinya berdasarkan pengalamannya sendiri. Semua pikiran kita didasarkan pada pengalaman kita sendiri, dan oleh karenanya bersifat subyektif. Pada kontruktivisme siswa menjadi lebih aktif dan inisiatif dalam membangun pengetahuannya. Siswa secara aktif mengkontruksikan belajarnya dari berbagai macam input yang diterimanya, karena pada dasarnya kontruktivisme adalah pencarian makna. Siswa aktif berusaha mengkontruksikan makna sehingga guru hanya menjadi fasilitator dengan menyajikan kegiatan belajar mengajar yang mengekplorasi siswa sehingga memungkinkan siswa untuk mengkontruksikan makna. Oleh karena itu, pembelajaran yang dilakukan bukan tentang memperoleh jawaban benar tanpa memahami konsepnya tetapi bagaimana membantu siswa mengkontruksikan makna mereka sendiri (Muijs & Reynolds, 2009). Keberhasilan belajar bukan hanya tergantung pada lingkungan atau kondisi belajar melainkan juga pada pengetahuan awal siswa. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata. Hal ini sesuai dengan pendapat Ausubel yang dikutip oleh Bodner (1986):

To learn meaningfully, individuals must choose to relate new knowledge to relevant concept and proportions they already know. In rote learning ....new knowledge may be acquired simply by verbatim memorization and arbitrarily incorporated into a person’s knowledge structure without interacting with what is already there.

Menurut Piaget dan Vygostky seperti yang dikutip Kauchak, et al., (2000) dalam buku Learning and Teaching, ada empat kunci pokok pembelajaran menurut model pembelajaran konstruktivisme, yaitu: Siswa lebih banyak menyusun pemahaman mereka, daripada mendapatkannya dengan cara diperoleh langsung dari guru; pengetahuan yang baru dimiliki siswa, tergantung dari pemahaman siswa tentang materi pelajaran yang diperoleh sebelumnya; pembelajaran disertai dengan interaksi sosial keilmuan; dan tugas-tugas pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran, mendukung pembelajaran yang berguna bagi siswa.

Anak-anak belajar dengan paling baik dengan menyelesaikan berbagai konflik kognitif (konflik dengan berbagai ide dan konsepsi lain) melalui pengalaman, refleksi, dan metakognisi (Beyer, 1985). Jadi siswa pembelajaran kontruktivisme siswa mencari tahu tentang yang dipelajarinya dan menyimpulkan konsep dan ide baru dengan pengetahuan yang sudah ada dalam dirinya atau berdasarkan pengalaman dan informasi yang dimilikinya sehingga pembelajaran menjadi meaningfullDi sini guru sebaiknya menajadi fasilitator. Dimana guru bukan satu-satunya sumber belajar. Siswa diberi ruang gerak yang bebas untuk menemukan informasi, ide, atau gagasan. 

Selain itu adanya interaksi sosial menjadi salah satu ide utama dari kontruktivisme.  Kontruktivisme menyoroti interaksi orang-orang dan situasi-situasi dalam penguasaan dan penyempurnaan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan. Kontruktivisme memiliki asumsi yangsama dengan teori kognitif sosial yang mengarahkan bahwa orang, perilaku, dan lingkungan saling berinteraksi secara timbal balik. Adapun asumsi-asumsi dari kontruktivisme adalah pertama,  manusia merupakan siswa aktif yang mengembangkan pengetahuan bagi diri mereka sendiri. Di mana siswa diberikan keluasan untuk mengembangkan ilmu yang sudah didapatkan tersebut, baik dengan melakukan latihan, melakukan eksperimen maupun berdiskusi sesama siswa. Dengan hal seperti itu maka ilmu-ilmunya tersebut akan berkembang dan bertambah. Kedua. Guru sebaiknya tidak mengajar dalam artian menyampaikan pelajaran dengan cara tradisional kepada sejumlah siswa. Guru seharusnya membangun situasisituasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dengan materi pelajaran melalui pengolahan materi-materi dan interaksi sosial. (Schunk, 2012: 323. Seperti yang disampaikan oleh Paris, Byrnes, & Paris (2001) bahwa Meletakkan belajar dalam konteks sosial dan kultural disebut "Konstruktivisme Gelombang Kedua". Interaksi sosial bisa diwujudkan atau dioptimalkan dengan adanya pembelajaran yang kooperatif & kolaboratif. 

Metode cooperative learning dapat memotivasi peserta didik untuk berfikir kritis sekaligus dialogis, kreatif dan interaktif yakni problem solving atau pengajuan masalah-masalah yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan. Permasalahan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian diupayakan untuk dicari jawabannya baik secara individu maupun bersama. Penerapan Metode cooperative learning ini tidak hanya memudahkan peserta didik untuk memahami materi yang akan guru sampaikan, namun juga akan dapat menguatkan akidah akhlak serta keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. (Santoso dkk, 2019, 1). Pembelajaran kooperatif & kolaboratif menjadikan anak berdialog atau berinteraksi satu sama lain dalam membangun pengetahuannya. Hal ini diperkuat oleh pendapatnya Freire (2013) yang menyatakan bahwa pembelajaran itu harus bersifat dialogis bukan antidialogis karena dialog merupakan esensi yang harus mendasari setiap pembelajaran. Dengan adanya dialog siswa akan dapat menyampaikan gagasan kritisnya, tidak hanya diam menerima pembelajaran begitu saja. Sehingga siswa yang memiliki kesadaran kritis yang luar biasa yang nantinya akan mampu menghadapi dan menyelesaikan permasalahan realita yang ada. bahwa dialog bukan hanya sekedar percakapan tetapi disitu ada unsur rasa menghormati satu sama lain. Maka di dalam berdialogpun harus ada rasa saling cinta, kasih sayang, kerendahan hati, kejujuran dan keyakinan sehingga tercipta hubungan yang humanis. 

Guru sebaiknya memfasilitasi model pembelajaran yang bersifat kooperatif dan kolaboratif. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang didasarkan faham konstruktivis yang berpandangan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan secara sadar strateginya sendiri dalam belajar, sedangkan guru membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi (Slavin, 1994; Abruscato, 1999). Hal ini diperkuat pendapatnya Barbara Lubbe (1992: 45) Cooperative learning is a successful teaching strategy in which small teams, each with students of different level of ability, use a variety of learning activities to improve their understanding of a subject. Each member of a team is responsible not only for learning what is taught but also for helping teammates leam, thus creating an atmosphere. Berdasarkan pernyataan tersebut bahwa tiap  anggota kelompok merespon bukan saja materi pelajaran yang diajarkan tetapi juga membantu belajar anggota tim lainnya agar berkreasi dalam suasana kondusif.

Pembelajaran kooperatif difokuskan terhadap penggunaan kelompok kecil peserta didik untuk bekerja sama dalam mengoptimalkan kondisi belajar agar mencapai capaian pembelajaran. Maka dengan pembelajaran tersebut akan selalu ada dialog, kepekaan dan keterampilan sosial karena adanya kerja sama dalam pembelajaran. Pembelajaran kooperatif ini juga menekankan adanya ketergantungan positif sehingga antar anggota kelompok saling membantu, tidak mementingkan diri sendiri dan memberi motivasi sehingga ada interaksi (dialog) yang bersifat promotive. Pada pembelajaran kooperatif peserta didik menjadi mampu memandang masalah dan situasi dari berbagai perspekstif. Hal ini akan membuat budaya belajar yang dialogis kritis. Salah satu yang diusulkan oleh Freire (2013) mengenai pembelajaran yang berbasis dialog ini adalah pembelajaran hadap masalah atau pembelajaran yang berbasis masalah/kasus. Dengan pembelajaran berbasis masalah ini akan merealisasikan kebutuhan siswa dalam berfikir aktif, kritis, mampu memecahkan masalah yang dihadapi dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan. 

DAFTAR PUSTAKA

Beyer BK (1985). Critical Thinking:What is it? Social Education, 49:270-276.

Bodner, G.M. 1986. Constructivism: A theory of knowledge. Journal of Chemical Education.

63. 873-878.

 

Bujuri, Dian Andesta. 2018. Analisis Perkembangan Kognitif Anak Usia Dasar dan

Implikasinya dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Jurnal Literasi. Vol IX, No. 1. Hal

37-50.

 

Bruning, R., Schraw, G., Norby, M., & Ronning, R. (2004). Cognitive psychology and

instruction. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.

Depdiknas.2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 41 Tahun 2007 Tentang       Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.           Jakarta:DepdiknasHaryanto. 2008. Model Pembelajaran PAKEM Sekolah Dasar

De Kock, A., Sleegers, P., and Voeten, M.J.M. (2005). New learning and choices of secondary

school teachers when arranging learning environments. Teaching and Teacher

Education, 21, 799-816.

 

Freire, Paulo. 2013. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: PustakaLP3ES Indonesia.

Hurlock EB. Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta: Erlangga; 2000. 

Kauchak, P.D., & Paul, D.E. 2000. Strategies for Teaching Content and Thinking Skills,

Boston: Allin and Bacon.

 

Muijs, Daniel, & Renold, F.(2009) Effectiveness and disadvantage in education. Can a focus

on effectiveness aid equity in education?. In, Raffo, Carlo, Dyson, Alan, Gunter, Helen,

Hall, Dave, Jones, Lisa and Kalambouka, Afroditi (eds.) Education and Poverty in

Affluent Countries. Abingdon, GB, Routledge

 

Paris, S. G., Byrnes, J. P., & Paris, A. H. (2001). Constructing theories, identities, and actions

of selfregulated learners.In B. Zimmerman & D. Schunk (Eds.), Self-regulated learning

and academic achievement (pp. 253–287). New York: SpringerVerlag.

Sagala, S. (2010). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. 

Santoso dkk. 2019. Pembelajaran Akidah Akhlak dengan Strategi Cooperative Learning. Al

Idarah: Jurnal Kependidikan Islam. Volume 9 Nomor 1. Hal 1-10.

 

Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories An Education Perspective, Di Terjemahkan Oleh

Eva Hamdiah, Rahmat Fajar, Dengan Judul Teori-Teori Pembelajaran Perspektif

Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Slavin, Robert E. (2016), Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik, Bandung:Nusa

Media.

 

Von Glasersfeld, E. (1987). The Construction of knowledge: Contributions to conceptual

semantics.Seaside, CA: Intersystems Publications.

 

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Artikel Favorit

Tugas 1
Favourite
Tugas 2
Favourite
Tugas 3
Favorite
Tugas 4
Favourite

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

Jl. Brawijaya No.99, Jadan, Tamantirto, Kec. Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55183 C

Work Time:

Monday - Friday from 8am to 5pm

Phone:

(0274) 4342288

Yusinta Dwi Ariyani Filsafat

Diberdayakan oleh Blogger.

REFERENSI MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN

 REFERENSI MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN Oleh Yusinta Dwi Ariyani Universitas Alma Ata Royce's, J., 1892, The Spirit of Modern Philoso...