LAPORAN MEMPELAJARI FILSAFAT

LAPORAN MEMPELAJARI FILSAFAT
(Hasil dari Membaca Referensi Filsafat: Buku, Jurnal Filsafat, Video Filsafat, Kuliah Filsafat Prof. Marsigit, Website dan FB serta Bedah RPS Filsafat)

oleh Yusinta Dwi Ariyani



Buku The Critique Pure Reason by Immanuel Kant

            Buku ini berisi gagasan-gagasan filsafat yang disampaikan oleh Immanuel Kant. Gagasan filsafat yang disampaikan merupakan gagasan yang bersifat kritis. Kritis terhadap penalaran kita tentang memahami suatu dunia. Immanuel Kant menjadi pelopor terhadap filsuf-filsuf lainnya seperti Schopenhauer dan Wittgenstein. Selain itu Kant juga mengkritisi gagasan-gagasan filsafat empiric Hume, Berkeley dan Locke. Tetapi sebenarnya tujuan utama dari The Critique Pure Reason by Immanuel Kant ini untuk mendamaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme atau lebih dikenal dengan akal budi dengan indera, bahwa keduanya itu saling melengkapi. 

            Pada bab pertama membahas mengenai estetika. Estetika dimaksud oleh Kant disini lebih kepada persepsi yang yang ditangkap oleh indera secara langsung. Kant membagi estetika menjadi 2 bagian, yaitu intuitif dan konseptual. Intuisi menurut kan merupakan sebuah pengetahuan naluriah atau proses penerimaan pengetahuan dari pengalaman tanpa melalui konseptualisasi jadi bisa dikatakan masih data mentah. Jadi intuisi menurut Kant hanya sekedar kondisi pengamatan saja tanpa adanya konseptualisasi terhadap suatu data. 

            Kant menganalisis mengenai pengetahuan yang didasarkan pada pemahaman umum. Dia berpendapat bahwa kita tidak dapat terus menerus meragukan kita. Dia melihat suatu permasalahan secara analitis sehingga dapat dipecahkan dengan penalaran. Akal budi kita memiliki posisi yang istimewa. Misalnya saja mengenai gagasan pikiran di setiap manusia rasional tentu berpendapat bahwa seluruh peristiwa di semesta saling berkaitan. Jadi tidak perlu dibuktikan secara empiris bahwa setiap peritsiwa selalu mempunyai kausalitas dalam diri sendiri itu benar. Di sini Kant membagi pengetahuan kita menjadi 4, yaitu:

a.     Suatu pernyataan bersifat analitik: jika predikat dari subyek ada di dalam subyek

b.     Suatu pernyataan bersifat tidak analitik, jika pernyataan tersebut menambahkan sesuatu yang baru tentang subyek. 

c.     Suatu pernyataan disebut benar secara a priori jika kebenarannya ditentukan sebelum pengalaman, tanpa referensi pada pengalaman.

d.     Suatu pernyataan disebut benar secara a posteori, jika pernyataan tersebut ditentukan kebenarnnya melalui referensi pada pengalaman.

Seluruh pernyataan analitik bersifat a priori karena kebenaran  logika pernyataan tersebut terlepas dari pengalaman yang kita alami. Pernyataan  ini tidak membutuhkan bukti empris untuk penilaian kebenarannya.   Seluruh  pernyataan  a  posteriori  dengan  sendirinya  pasti  bersifat  sintetik,  karena  terdapat  informasi  tambahan  pada  subjek  yang  didapatkan  melalui  pengalaman.  pernyataan sintetik yang bersifat a priori itu ada misalnya pernyataan kausalitas. 

Pandangan Kant ini bertentangan dengan aliran empirisme.  David  Hume  (1711  – 1776),  menolak  segala bentuk  pandangan  yang  membenarkan  a priori  sintentik.  Namun,  bagi  Kant  penolakan  Hume  merupakan bentuk  a  priori  sintetik. Kant berpendapat, bahwa a priori sintetik merupakan sesuatu yang esensial,  karena  merupakan bagian  dari keutuhan  nalar kita.  A  priori  sintetik  merupakan kondisi niscaya yang diperlukan agar pengetahuan menjadi mungkin.  Di  sinilah  terletak  kekhasan  pemikiran  seorang  Immanuel  Kant,  yang  ia sebut sebagai  Revolusi Copernicus  dalam bangunan  filsafat.  Kant menempatkan pikiran dalam kerangka aktif proses mengetahui dan a priori sintentik merupakan cara pikiran untuk aktif dalam proses mengetahui.

Pandangan Kant mengenai Fenomena dan Noumena, dunia fenomena dengan dunia noumena merupakan dunia pada dirinya sendiri yaitu sesuatu itu sendiri, berada yang melampaui pengalaman kita. Kant berpendapat, bahwa kita tidak akan bisa mengetahui dunia  noumena.  Hal  ini  selamanya  tidak  dapat  diketahui,  karena  kita  tidak  dapat  keluar  dari perspektif kita tentang dunia. Konsekuensi  pemikiran  Immanuel  Kant  tentang  dunia  fenomena  dan noumena adalah: Dunia yang kita kenal dan tinggali merupakan dunia fenomena yang diorganisasikan oleh pemikiran kita dengan mensintesiskan banyak data. Jika saya  melihat  sesuatu,  maka  sesuatu  tersebut  ada,  karena  dapat  disentuh  dan diorganisasikan  dalam  pikiran.  Hal  ini  merupakan  sebuah  fenomena  bukan noumena.  Kant  mengandaikan bahwa suatu benda dalam dirinya sendiri  berada melampaui  pengamatan  kita. Dunia kita terbatas pada batas kemampuan  memahami  dan  mengkonseptualisasikan  sesuatu. 

 

 

 

Kant juga membahas mengenai deduksi transcendental dalam buku ini, yang mana Deduksi  transendental merupakan  metode  yang  menjadi  karakteristik argumen – argumen Kant dalam Critique of Pure Reason. Kata ‘Transenden’ bagi Kant  berarti  sesuatu  yang  berada  di  luar  jangkauan  pengalaman.  Sedangkan melalui  konsep  transendental,  Kant  hendak  menyelidiki  bagaimana  cara  kita  mengetahui. Bagi Kant, kedua kata tersebut memiliki makna yang sedikit berbeda. Deduksi transendental merupakan metode deduksi logika dengan dua buah premis, seperti di bawah ini:

1. Hanya jika A maka B, 

2. B telah kita alami maka, 

3. A

Kant menggunakan metode ini untuk mengetahui hakikat pengetahuan, atau kondisi pra mengetahui. metode  yang digunakan oleh Kant adalah  metode  deduktif  yang  tidak  melibatkan  analisis  psikologi  empiris  yang  kerap dipakai  dalam  dunia  moderen.  Kant  dalam  Critique  of  Pure  Reason menyelidiki tentang pemahaman manusia. Etode deduksi  transendental  Kant  adalah  keharusan kesatuan  diri  sepanjang  mengalami  segala  sesuatu.  Artinya,  hanya  pada  satu  pengamat  yang  mengalami  pengalaman  berkesinambungan,  maka pengamatan dapat dilakukan. Kant juga membahas mengenai pengetahuan Murni dan Pengetahuan Empiris. Dikatakan bahwa suatu konsep dikatakan pengalaman murni. Jika konsep itu diabstraksi  dari  pengalaman  dan  tidak  terjadi  secara  langsung  pada  kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada. Pengalaman transcendental bukanlah sesuatu yang dialami itu sendiri. Pengetahuan transcendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman. Kant  juga  berpendapat,  tanpa  kemampuan  akal  budi  untuk mengorganisasikan dan mengkonseptualisasikan pengalaman, kita tidak akan dapat  merasakan pengalaman itu sendiri. 

 Kant  memunculkan  beberapa  istilah  baru  guna  mendukung  filsafatnya, antara lain, Sensibilitas,  yang  berarti  sarana  kita  untuk  mendapatkan  intuisi.  Sensibilitas bersifat reseptif. Melaluinya intuisi langsung ditransfer ke pikiran. Pemahaman, merupakan  fakultas mental yang berfungsi untuk  melakukan  konseptualisasi  intuisi -intuisi  yang  diberikan  oleh  sensibilitas.  Pemahaman  merupakan  kegiatan  nalar  yang  aktif    dan imajinatif.  Baik  sensibilitas  dan pemahaman berfungsi saling melengkapi, keduanya dibutuhkan untuk mengalami dan memahami dunia. Kant  membedakan  antara  forma  dan  konsep.  Forma  merupakan  struktur yang kita gunakan  dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep  merupakan cara  bagaimana  kita  memahami  dan  mengkategorikan  fenomena  guna mendapatkan  pengetahuan.  Forma  merupakan bagian  intuisi. Sementara  konsep dapat dipelajari dan diterapkan oleh intuisi untuk memahami forma.

Forma ruang dan waktu. Ruang dan waktu merupakan forma yang kita gunakan dalam melihat dunia. Ruang dan waktu tidak bersifat empiris dan konseptual. Ruang dan waktu adalah cara  kita  mengalami  dunia.  Kita  dapat  membayangkan  suatu  ruang  dan  waktu secara terpisah dari pengalaman. Oleh karena itu, ruang dan waktu berada di luar pengalaman. Ruang  dan waktu  merupakan  kondisi  mutlak yang  diperlukan  untuk kita merasakan pengalaman. Dengan demikian, keduanya tidak perlu dibuktikan karena berada di luar fakta sederhana bahwa kita memiliki pengalaman.

Kant berpendapat bahwa ruang dan waktu itu nyata secara empiris. keduanya  merupakan  bagian  dari  cara kita  memandang  dunia.  Ini merupakan  salah  satu  contoh  perbedaan  yang  digarisbawahi    Kant  tentang objektvitas  empiris  dan  subjektivitas  transendental.  Dan  juga  menunjukkan kesatuan kedua konsep tersebut: 

·      Ruang  dan  waktu  memiliki  objektivitas  empiris,  karena  keduanya merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mengalami dunia objektif. 

·      Ruang dan waktu juga memiliki sisi subjektivitas transendental karena  keduanya  merupakan  forma,  yang  mana  melalui  keduanya  pikiran  dapat memahami dunia. 

Waktu merupakan  kontinuitas dan  keteraturan pengalaman.  Ruang bersifat tidak diskursif, hanya terdapat satu ruang, sesuatu yang berukuran tak terbatas. Geometri merupakan suatu studi tentang ruang dan hubungan dalam ruang. Dengan demikian, geometri bersifat a priori sintetik. Pandangan Kant ini berbeda dengan  kebanyakan  pandangan  mazhab  pemikiran  matematika  analitik  yang menitikberatkan seluruh gagasan matematis pada logika. Mungkin kita dapat membantah pendapat Kant, bahwa ruang tidak dengan sendirinya  memberikan  bentuk  (forma).  Dengan  perkembangan  geometri  non–euklidian  dapat  melakukan konseptualisasi ruang dengan  cara  berbeda  dari yang  dilakukan  oleh Kant  yang  pandangannya  terhadap  geometri  terbatas  pada ruang euklidian. Tetapi, banyak filsuf penganut aliran filsafat Kantian yang menolak  argumen  itu  dengan  alasan  bahwa  terdapat  cara  dasar  manusia memandang ruang yang tidak terpengaruh oleh perkembangan geometri modern. Dengan demikian, menurut mereka geometri non–euklidian merupakan perangkat peradaban yang digunakan untuk memperbaiki pemahaman kita tentang dunia pada  tingkatan  objektif,  bukan  pada  tingkatan  pengalaman.  

 HasFilsafatil dari Membaca Referensi Filsafat berupa Jurnal dan Makalah 

Jurnal “Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika, oleh Prof. Marsigit”

Pendidikan matematika merupakan suatu keadaan atau sifat atau bahkan nilai yang bersinergis dengan pendidikan karakter. Oleh karena itu pendidikan karakter dalam pendidikan matematika menjadi bagian tak terpisahkan bagi setiap pengembang pendidikan, baik pendidik, tenaga pendidik maupun pengambil kebijakan pendidikan. Ada bebrapa prinsip dasar untuk pengembangan Pendidikan karakter dalam Pendidikan matematika, yaitu mulai dari adanya kesadaran diri, dan lingkungannya seperti adanya perhatian, rasa senang dan rasa membutuhkan disertai dengan harapan ingin mengetahui, memiliki dan menerapkannya; merasa perlunya mempunyai sikap yang selaras dan harmoni dengan keadaan di sekitarnya, baik dalam keadaan pasif maupun aktif, serta mengembangkannya dalam bentuk tindakan dan perilaku berkarakter; merasa perlunya disertai usaha untuk mencari informasi dan pengetahuan tentang karakter dan karakter dalam matematika, yang dianggap baik; mengembangkan keterampilan menunjukan sifat, sikap dan perilaku berkarakter dalam pendidikan matematika; serta keinginan dan terwujudnya pengalaman mengembangkan hidupnya dalam bentuk aktualisasi diri berkarakter dalam pendidikan matematika, baik secara sendiri, bersama ataupun dalam jejaring sistemik.

Untuk mengimplementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah maka kita masih harus memikirkan tentang pendidikan matematika, pembelajaran matematika, berpikir matematika, dst. Katagiri (2004) menguraikan bahwa berpikir matematika meliputi 3 aspek: pertama, sikap matematika, kedua, metode memikirkan matematika dan ketiga, konten matematika. Maka berpikir matematika juga merentang pada berpikir matematika pada dimensinya, artinya ada berpikir matematika di tingkat sekolah/material, atau perguruan tinggi/formal. Secara umum, sikap matematika ditunjukan dengan indikator adanya rasa senang dan ikhlas untuk mempelajari matematika, sikap yang mendukung untuk mempelajari matematika, pengetahuan yang cukup untuk mempelajari matematika, rasa ingin tahu, kemauan untuk bertanya, kemauan untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman matematika. Selain itu implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diperlukan pemahaman tentang makna karakter, karakter bangsa, matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensinya. Dimensi makna karakter dalam pendidikan matematika dapat dilihat dari sisi dimensi karakter matematika, karakter pendidikan matematika yang meliputi karakter guru matematika dan karakter siswa belajar matematika, baik untuk contoh-contoh konkrit maupun bentuk-bentuk idealnya. Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normatif dan komunikasi spiritual. Maka perlu pendekatan yang lebih cocok dengan dunia siswa belajar matematika. Oleh karena itu keberhasilan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika ditentukan seberapa jauh kita mampu mendefinisikan dan mengimplementasikan konsep dasar matematika sekolah. Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter  menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah dan kegiatan komunikasi. Jadi implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diharapkan dapat berkontribusi pada keunggulan bangsa melalui inovasi pembelajran matematika yang dilakukan secara terus menerus baik secara instrinsik, ekstrinsik atau sistemik.


Makalah “Refleksi Pendidikan Kontemporer Indonesia: Sebuah Tinjauan Filsafat, Politik, dan Ideologi Pendidikan oleh Prof. Marsigit”

Makalah ini berisi mengenai hasil telaah atau kajian perihal pendidikan di Indonesia dengan pendekatan filsafat, politik dan ideologi. Telaah filsafat telah memberi petunjuk adanya aliran-aliran pemikiran dalam sejarahnya; sedangkan politik dan ideologi telah memberikan konteks, persoalan dan solusi-solusinya. Terdapat benang merah secara filsafati, politik dan ideologis bahwa persoalan multidimensi bangsa Indonesia secara hermeneutika dapat didekati menggunakan narasi-narasi besar dunia di satu sisi, dan di sisi lain dapat didekati menggunakan dialog kecerdasan lokal (local genious). 

Pendidikan Indonesia menganut atau mengimplementasikan Ideologi Pendidikan Public EducatorPublic educator cenderung mengimplementasikan Politik Pendidikan Demokrasi. Krisis multidimensi Bangsa Indonesia terjadi karena mindset kebangsaan para pemimpin dan pengambil kebijakan pendidikan mengalami kegamangan serta tidak mampu mendudukan Ideologi dan Politik Strategis Bangsa Indonesia, memerjuangkan dan memerebutkannya secara konsisten dan istiqomah di tataran global baik pada sekarang maupun yang akan datang, karena pendidikan yang baik adalah Pendidikan yang menjamin hidup akan lebih hidup, dalam segala aspek dan dimensinya.

Implementasi Politik Pendidikan Kontemporer Indonesia merepresentasikan Filsafat Esensialisme, Realisme, dan Eksistensialisme. Representasi Filsafat demikian memuat  kecenderungan. Sebagai anti-tesis dari Filsafat Spiritualisme, artinya dalam implementasi Pendidikan Kontemporer kita ada kecenderungan atau godaan untuk mengambil jarak dengan Spiritualisme. Implementasi Politik Pendidikan Kontemporer Indonesia masih tetap saja hampir semua guru mengajar dengan Paradigma Behavioral, metode Epsositori, Indoktrinasi, ceramah, Motivasi Eksternal, Siswa sebagai Empty vessel, Guru sebagai satu-satunya pusat berfikir. Jadi Politik Pendidikan Kontemporer yang demikian, maka sangat mudah dipahami mengapa Indonesia memasuki fase Krisis Multi Dimensi berkepanjangan. Hal ini menjadikan Pendidikan di Indonesia belum atau tidak sehat. Pendidikan Nasional yang belum atau tidak sehat dapat dijelaskan melalui telaah kedudukan dan hubungan antara Karakter Indonesia dengan Karakter Global (atau Kontemporer), Sebab utamanya adalah karena Indonesia yang belum mempunyai karakter kokoh, berada di muara atau persimpangan pergulatan peradaban Dunia yang begitu sengit.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas maka solusi yang ditawarkan pada tulisan tersebut adalah konsep politik Indonesia yang diberi nama “Pendidikan Demokratis Pancasila” sebagai solusi untuk mengatasi Krisis Multi Dimensi Bangsa Indonesia. Agar diperoleh sikap moral berjati diri Indonesia yang sesuai butir-butir Pancasila dan struktur kemasyarakatan Bhineka-Tunggal Ika untuk membangun hidup manusia Indonesia seutuhnya dengan cara dan untuk memeroleh karakter bernurani, adil, beradab, jujur, mandiri dan mampu bekerjasama baik pada tataran lokal, nasional, maupun internasional. Untuk itu, Sistem Pendidikan Nasional dikembangkan agar mampu mengembangkan hakikat keilmuan sebagai Saintifik-Spiritualisme yang didukung dengan Kurikulum yang mampu mewadahi hermenitika hidup seutuhnya berdasarkan Pancasila.

 

C.   Hasil dari Membaca Referensi Filsafat berupa Video Filsafat

1.     Video Youtube “Intuisi Siswa”

Matematika itu multidimensi, kenapa dikatakan multidimensi? Karena matematika adalah ilmu, matematika adalah deduksi, matematika adalah struktur dari pengetahuan dan matematika itu body of knowledge. Tetapi Ketika sudah masuk di dunia PAUD/SD atau younger learner paradigmanya harus berganti. Ketika kita menghadapi situasi yang berbeda maka kita juga harus menggunakan paradigma yang berbeda pula. Hal ini mencirikan sebagai orang-orang yang bijaksana. Paradigma di sekolah dasar dan paud berdasarkan kajian filosofis adalah semua subjek. Di SD harus didefinisikan sebagai suatu aktifitas sosial. Di SD matematika itu adalah sebuah aktifitas. Semua pelajaran di paud/SD adalah aktifitas. Matematika tanpa adanya aktifitas bukanlah matematika.

 Sebagai pendidik kitalah yang menyesuaikan mereka atau kitalah yang masuk ke dunia mereka bukan mereka yang masuk ke dunia kita. Jangan pernah memaksakan dunia kita kepada dunia anak-anak (SD/Paud) karena yang akan jadi korban adalah anak itu sendiri, dan berakibat pada rusaknya intuisi, jadi anak-anak akan kehilangan intuisinya. Intuisi sangat penting. Intuisi adalah semuanya. Karena kalau tidak punya intuisi maka hidup tidak akan efektif dan menyusahkan. Bahkan cinta itu adalah sebuah intuisi, rasa kenyang setelah makan itupun intuisi. Anak kecil itu belajarnya memakai intuisi, maka dekati mereka sesuai dengan dunianya, jangan dengan dunia kita, 

 

2.     Video Youtube “Aneka Ragam Siswa”

Paradigma di Inggris menggambarkan atau mengibaratkan guru itu sebagai seorang petani yang mempunyai bibit kemudian dirawat. Pada saat menumbuhkan. itu pasti tidak semua sama ada yang kurus dan ada juga yang gemuk itu diberi perlakuan yang berbeda. Nah ini diibaratkan Ketika kita mengajar anak SD kita juga harus bisa memperlakukan anak sesuai dengan karakteristik anak tersebut. Seperti saat Prof Marisigit berkunjung dan mengamati di sebuah sekolah di London. Di dalam kelas tersebut guru membagi siswa dengan beberapa kelompok berdasarkan tingkat kemampuannya. Guru menyiapkan LKS yang berbeda-beda tiap kelompok berdasarkan tingkat kemampuan yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa guru di sana memperhatikan siswa dalam pembelajaran dari segi keanekaragaman/karakteristik siswa agar bisa mencapai pembelajaran atau tujuan pembelajaran yang optimal. 

            

3.     Video Youtube “Guru Ideal”

Sikap guru di inggris sangat luar biasa sehingga siswanyapun merasa sangat senang. Pergaulan antara siswa dengan guru di sana seperti antara ibu (orangtua) dengan anak, kakak dengan adik, bahkan seperti hubungan seorang teman.  Kurikulum disana yang membuat adalah siswa itu sendiri. Maksudnya di sana guru sistemnya bertanya dulu kepada siswa. Apa yang ingin dipelajari dan jawaban masing masing siswa berbeda-beda. Gurupun mewujudkan semua apa yang diminta oleh siswanya. Jadi siswa merasa nyaman dengan pembelajaran seperti itu. 

 

D. Hasil dari Membaca Referensi Filsafat berupa Kuliah Filsafat Prof. Marsigit

Kuliah Pertemuan 1 

Paradigma kontruktivisme, tidak mengajar, memberi dan mentransfer tetapi sebagai fasilitator. maka seorang pendidik itu adalah seorang fasilitator yang bisa membangun pengetahuan siswanya.

Semua ciptaan Tuhan itu filsafat, tetapi yang menjadi batas dari filsafat adalah spiritualitas. Maka sebetul-betulnya filsafat adalah diri kita masing-masing. Jadi filsafat itu diriku. 

Mempelajari filsafat harus secara komprehesif atau holistic, jadi tidak boleh setengah-setengah/sepenggal/sepenggal/parsial. Sehingga Ketika kita mempelajari filsafat ya harus dengan banyak membaca. 

Ruang itu waktu karena tidak ada ruang tanpa waktu atau tidak ada waktu tanpa ruang. Berbahaya kalau berfilsafat tetapi salah ruang.

Obyek filsafat itu ada 2 yaitu obyek formal dan obyek material. Obyek formal itu kerangkanya, bentuknya atau wadahnya sedangkan obyek material itu isinya atau substansinya. Isi sama dengan wadah. Wadah sama dengan isi.

Alat yang digunakan di filsafat itu analogi (hubungan filsafat dengan bahasa). Metode berfilsafat yaitu intensif dan ektensif. Intensif itu sedalam-dalamnya. Apa yang diintensif dan ekstensifkan? Tesis dan anti tesis. Semua ciptaan tuhan itu tesis bagi manusia

Mempelajari filsafat itu juga harus mempelajari tokoh-tokohnya. 3 pilar filsafat yaitu ontology, epistemology, aksiologi. Ontology itu hakikatnya obyeknya dari metafisika adalah yang ada dan yang tidak ada. Rasa itu norma, rasa itu di dalam aksiologi yaitu kebaikan dan keindahan. 

Di dalam filsafat itu ada namanya kebaikan murni, yang ajaran dari pada agama itu adalah kebaikan murni. 

 

Hasil dari Membaca Referensi Filsafat berupa Website dan FB Prof. Marsigit

1.     “Filsafat Penjumalahan”

Ilmu menjumlah pada dasarnya adalah ilmu tentang ruang dan waktu. Kemudian kegiatan dari menjumlah tersebut merupakan kegiatan intuisi. Mengapa bisa dikatakan demikian? Hal ini bisa dijelaskan dengan sebuah contoh, kegiatan membaca. Manusia memiliki intuisi dua satu, dengan intuisi tersebut manusia mampu membaca. Membaca ini merupakan suatu fenomena yang menembus ruang dan waktu. Yaitu adanya tulisan di dalam buku tersebut dari tadi, sekarang dan nanti. Kita membaca dari kiri ke kanan dari atas ke bawah. Jadi Ketika membaca masih ingat bacaan halaman sebelumnya. Maka kegiatan membaca termasuk salah satu konsep menjumlah dan terkonteks pada ruang dan waktu. 

 

2.     “Atmospir”

Atmospir itu keadaan, suasana hati, atau keadaan lingkungan hidup bisa juga dikatakan keadaan kejiwaan atau psikologis. Oleh karena itu semua orang akan lebih efektif dan efisien jika beraktifitas sesuai dengan atmospirnya. Hidup akan terasa lebih mudah jika bisa mengenali atmospirnya. Maka sebenar-benarnya hidup kita itu adalah atmospir diri kita sendiri, karena atmospir itu hidup dan dihidupkan. Jadi atmospir diri kita adalah kita yang menghidupkan. 

 

3.     “Fallisbisme”

Fallibisme itu adalah pernyataan yang tidak memaksa atau pembenaran semua jawaban, karena jawaban benar salah itu tergantung dari porsi kemampuan seseorang, Jadi tidak menuntut di luar kemampuan seseorang. Oleh karena itu kita lebih berhati-hati untuk menempatkan  sesuatu sesuai dengan tingkat kemampuan seseorang. Seperti contoh ketika kita mengajar anak SD maka yang diajarkan dan dipertanyakan adalah pelajaran untuk anak SD bukan untuk anak SMP/SMA. 


4.     “Aturan”

Setelah membaca artikel tentang aturan yang di share di FB, saya dapat menggambarkan pemahaman saya terhadap artikel ini dengan bagan sebagai berikut:


 

5.     “Sawang Sinawang”

Sawang sinawang melihat secara bermakna, saling melihat satu dengan yang lain, untuk memperoleh pelajaran kebajikan (merefleksikan atau mengkritisi kehidupan) yang dikaitkan dengan suatu keadaan tentang diri kehidupan berupa perbuatan, kata-kata, tulisan atau pikiran. Sumber dari sawang sinawang ini bermacam-macam, yaitu dari realita kehidupan, medsos, komunikasi, dan interaksi. Manfaat sawang sinawang tergantung dari obyek yang disawang, subyek penyawang dan konteks sawang sinawang. Jadi sebenar-benarnya hidup itu sawang sinawang. Tetapi konteks sawang sinawang ini diharapkan untuk memperoleh manfaat yang baik seperti nilai-nilai kebajikan dan kemaslahatan dunia dan akhirat.

 

6.     Gagak Seta”

Satu-satunya kebodohan manusia itu tidak mau dan tidak mampu memahami perbatasan. Perbatasan itu adalah menembus ruang dan waktu, perbatasan adalah perubahan jaman pada Dunia Besar maupun Dunia Kecil. Salah satu perubahan jaman adalah adanya pageblug. Agar manusia selamat dan bisa lolos dari Pageblug, salah satunya harus menyadari, mempunyai pengetahuan dan mampu menyesuaikan dengan Jaman baru. Maka sebenar-benarnya perbatasan adalah ilmu tetapi jika manusia mau dan mampu mencari ilmunya di perbatasan, maka sebenar benar perbatasan itu bukanlah perbatasan.

 

7.     “Kepompong”

Kehidupan manusia itu seperti sebuah kepompong. Kenapa? Manusia itu makhluk istimewa,  walaupun mengalami berbagai macam bentuk dan fase Kepompong, tetaplah masih menjadi manusia yang sama tetapi mestinya berbeda. Berbeda dimaknai sebagai meningkatnya kualitas hidup setelah mengalami berbagai jenis dan fase kepompong kehidupan. Maka keadaan berproses itu mestinya dapat bermanfaat untuk peningkatan kualitas hidupnya. Kualitas hidup manusia akan naik atau turun tergantung keberhasilan istiqamah dan amanah proses pada setiap kepompong yang dijalani. Istiqamah berarti mengikuti kodrat, hukum alam, takdir,  ketentuan dan perintah Tuhan. Amanah berarti akuntabel atau dapat dipercaya oleh diri atau orang lain. 

 

8.     “Fenomenologi”

Fenomenologi adalah suatu kegiatan memilih dan idealisasi. Idealisasi merupakan penyimpulan, perumusan atau pengambilan keputusan. Fenomenologi memiliki 2 unsur yaitu memilih dan menggeneralisasi. Mengambil satu, dua, tiga atau beberapa sifat dari semua sifat yang ada, untuk dipelajari adalah separoh dari ilmu yang disebut Fenomenologi. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memilih atau mencontoh hal-hal yang baik. Seperti halnya manusia berusaha untuk mencontoh sifat Tuhan yang digunakan sebagai pedoman hidup, dan mencontoh atau meniru boleh apa sajadari ciptakan Tuhan. Seperti yang dikisahkan di sini tentang naga dan rajawali yang memiliki sifat baik dan buruknya. Manusia bisa mengambil sifat baik dari naga dan rajawali untuk diterapkan dalam kehidupannya. 

 

9.     “Keunggulan Ditermin”

Ditermin merupakan semua pikiran, perasaan sikap baik yang disengaja maupun tidak. Kemampuan manusia menamai benda-benda itulah sebagai wujud keunggulan ditermin yang menjadi dasar struktur kuasa dan pembeda manusia terhadap manusia lainnya, binatang, tumbuhan atau benda-benda. Tanpa Keunggulan ditermin manusia tidak akan mampu membedakan benda-benda, tumbuhan, binatang bahkan tidak mampu membedakan manusia satu dengan lainnya. Kuasa ditermin inilah penyebab atau menjadi landasan ontologis manusia memciptakan bahasa, budaya dan peradaban: masyarakat, sosial, bangsa, negara bahkan tatanan dunia. Adanya kita hanya wajib selalu bersyukur atas Karunia yang tidak ternilai harganya, yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita semua. Sebenar-benar Maha Menentukan adalah Kuasa Allah SWT sendiri. Jadi kita wajib bersyukur bahwa sejak lahir ke muka bumi, manusia sudah dibekali keunggulan ditermin oleh Allah SWT.

 

10.  “Ujian Keikhlasan”

Hidup itu ada 2 pilihan, yaitu ikhlas atau tidak ikhlas. Pilihan itu akan menjadi awal, proses dan  tujuan atau hasil dari hidup kita. Jika awal dari hidup kita tidak ikhlas maka seluruh hidup kita juga akan tidak ikhlas. Sebenar benar tidak ikhlas adalah dosa dan neraka. Maka sebaiknya kita selalu merasa bersyukur apapun keadaannya.karean jika kita selalu merasa krang bersyukur itulah yang menjadi penyebab kita selalu merasa miskin. Jadi kita harus selalu berdoa dan memohon ampun kepada Alloh SWT serta memohon bimbingan dalam hidup kita, agar kebaikan-kebaikan selalu mengalir dalam hidup kita. 

 

11.  “Filsafat Bilangan Nol”

Pembelajaran Matematika di kelas bawah (1, 2 dan 3) sebaiknya menggali dan mengembangkan pengetahuan intuitif. Karena Ketika kita memberi pembelajaran matematika pada siswa akan lebih mudah jika membawa pengalaman psikologis anak mengenai pemahaman obyek matematika itu sendiri. Misalnya Anak kecil mengerti bilangan nol, satu, dua bukan dari definisi atau ilmu bilangan, tetapi dari hasil pengalamannya bergaul atau berinteraksi dengan orang tua, keluarga dan tetangga sekitar. Itulah sebabnya pengetahuan intuitif sangat penting sebagai pondasi pengetahuan matematika selanjutnya karena Sebenar-benar pengetahuan intuitif diperoleh dari pengalaman diri siswa dari interaksinya dengan lingkungan konkritnya.

 

12.  “Landasan”

Hidup manusia itu hanya ada 2 macam yaitu hidup yang berlandaskan dan hidup yang tidak berlandaskan. Landasan Agama adalah iman. Landasan keluarga adalah pernikahan.  Segala macam kegiatan pada dasarnya harus berlandaskan. Landasan pikiran adalah hati. Landasan ucapan adalah pikiran dan hati. Landasan tindakan adalah pikiran dan hati. Landasan gedung adalah pondamen. Landasan langit adalah bumi. Landasan teman adalah saling menghargai. Landasan birokrasi adalah tugas dan kewajiban. Landasan moral adalah Agama, budaya dan adat istiadat. Landasan pergaulan adalah etik, estetika, moral dan Agama. Landasan aktivitas adalah niat, doa, ilmu dan pengalaman. Landasan pengalaman adalah niat, sikap, ilmu dan ketrampilan. Landasan sosial adalah rasa saling hormat dan percaya. Landasan perdamaian adalah saling mengerti. Landasan kesehatan adalah keseimbangan. Landasan kebahagiaan juga keseimbangan. Landasan cinta adalah sayang. Landasan sayang adalah memberi. Landasan memberi adalah moral. Landasan moral adalah Agama. Sebagai contoh ketika kita ingin membangun rumah itupun harus ada landasan selain pondamen tetapi juga ada landasan doa, tujuan, manfaat dan estetikanya.

 

F.    Hasil dari Membaca Referensi Filsafat berupa Bedah RPS Filsafat Pendidikan

(https://uny.academia.edu/MarsigitHrd)

Mata kuliah Filsafat Pendidikan bertujuan untuk membangun pemahaman dan teori tentang filsafat ilmu. Ada 2 Kajian di dalamnya yaitu 

1.     Mengembangkan tesis, anti-tesis dan melakukan sintesis terhadap Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi filsafat Pendidikan pada kajian ini membahas mengenai: bidang pendidikan idealisme, bidang pendidikan realisme, bidang pendidikan spiritualisme, bidang pendidikan pluralisme, bidang pendidikan absolutism, bidang pendidikan formalisme, bidang pendidikan rasionalisme, bidang pendidikan naturalisme, bidang pendidikan scientisme, bidang pendidikan relativisme, bidang pendidikan materialisme, bidang pendidikan eksistensialisme, bidang pendidikan perenialisme, bidang pendidikan modernisme, bidang pendidikanpos modernisme, bidang pendidikan konstruktivisme, bidang pendidikan sosio konstruktivisme.

2.     Mengembangkan tesis, anti-tesis dan melakukan sintesis terhadap ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi ideologi Pendidikan pada kajian ini membahas mengenai: ideologi pendidikan pelatih industriideologi pendidikan teknologi pragmatismeideologi pendidikan konservatismeideologi pendidikan humanistikideologi pendidikan liberalismeideologi pendidikan sosialismeideologi pendidikan pragmatisideologi pendidikan kapitalismeideologi pendidikan kontemporerideologi pendidikan monokulturideologi pendidikan heterogonom/multikulturalideologi pendidikan materialismeideologi pendidikan egalitarianism, ideologi pendidikan elitism, ideologi pendidikan meritokrasi, ideologi  pendidikan ilmiah, pendidikan kritis, ideologi pendidikan Pancasila.

 

Dari kajian bahasan di atas kita nantinya diharapkan mampu merencanakan dan mengelola  sumberdaya secara bertanggung jawab dan mengevaluasi secara komprehensif kerjanya dengan memanfaatkan IPTEKS untuk menghasilkan langkah-langkah pengembangan dan penerapan Filsafat Ilmu (Pendidikan), Mampu memecahkan permasalahan sains, teknologi, dan atau seni di dalam bidang keilmuannya melalui pendekatan dan penerapan Filsafat Ilmu (Pendidikan), mampu melakukan riset dan mengambil keputusan strategis dengan akuntabilitas dan tanggung jawab penuh atas semua aspek pengembangan Filsafat Ilmu (Pendidikan). 

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

Jl. Brawijaya No.99, Jadan, Tamantirto, Kec. Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55183 C

Work Time:

Monday - Friday from 8am to 5pm

Phone:

(0274) 4342288

Yusinta Dwi Ariyani Filsafat

Diberdayakan oleh Blogger.

REFERENSI MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN

 REFERENSI MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN Oleh Yusinta Dwi Ariyani Universitas Alma Ata Royce's, J., 1892, The Spirit of Modern Philoso...