MEMBUAT 5 PERTANYAAN
Oleh Yusinta Dwi Ariyani
"All About Philosophy"
Setelah membaca tulisan “REFLEKSI PENDIDIKAN KONTEMPORER INDONESIA: SEBUAH TINJAUAN FILSAFAT, POLITIK DAN IDEOLOGI PENDIDIKAN” ada table yang menjelaskan mengenai ontologi mikro filsafat dan mikro ideologi Pendidikan. Disitu disampaikan bahwa terlihat politik dan system Pendidikan Nasional Indonesia belum menggambarkan pola dan struktur yang konsisten, kompak dan komprehensif; struktur yang demikian, secara filsafati dikatakan sebagai sebuah struktur yang belum sehat atau tidak sehat. Lalu struktur yang bagaimana yang bisa menggambarkan struktur yang sehat dilihat dari segi politik dan system Pendidikan?
Masih pada tulisan “REFLEKSI PENDIDIKAN KONTEMPORER INDONESIA: SEBUAH TINJAUAN FILSAFAT, POLITIK DAN IDEOLOGI PENDIDIKAN” disitu disampaikan bahwa Sebenar-benar guru akan merasa menjadi korban jika dimensi profesionalisme mereka meningkat menjadi Pengembang Pendidikan dengan mengembangkan Metode Pembelajaran Berbasi Class-room Based Researh, sehingga diperoleh level profesional tertinggi yaitu jika Guru sudah mampu memroduksi Perangkat dan Software Pembelajaran dan menyosialisasikan (dari guru untuk guru; guru menjual guru memberi produk berbasis riset. Sebenar-benar Perangkat Pembelajaran termasuk Teksbook adalah yang Terbaik jika dia merupakan karya Guru sendiri. Terkait pernyataan ini saya ingin menanyakan, bagaimana agar guru tidak terus menerus menjadi korban kebijakan Populis Pragmatis?
Setelah membaca tulisan yang berjudul “UJIAN KEIKHLASAN”, apakah setiap ketidak ikhlasan itu merupakan dosa. Lalu jika kita memberi sesuatu ke seseorang dengan tidak ikhlas itu juga dosa, padahal yang terpenting adalah pemberian itu bermanfaat bagi yang diberi?
Setelah membaca tulisan yang berjudul “KEUNGGULAN DITERMIN”, apakah kemampuan diterminasi ini yang membuat manusia mampu melihat benar dan salah terhadap fenomena yang ada di lingkungannya?
Setelah membaca tulisan “FENOMENOLOGI” bahwa Tiadalah ada orang di muka Bumi ini yang setiap saat, setiap detik tidak melakukan kegiatan Memilih dan Idealisasi. Inilah yang disebut sebagai Fenomenologi. Nah Ketika kita memilih aliran agama atau memilih jodoh apakah hal itu termasuk dalam fenomenologi? Atau bahkan dalam pembelajaran saja misalnya memilih atau menentukan capaian pembelajaran juga termasuk dalam fenomenologi?
Bagaimana pandangan filsafat mengenai “mitos”?
Setelah membaca tulisan “PARALOGOS”, Apakah seorang yang bingung selalu dikatakan tidak berilmu? Bukankah kecerdasan itu diawali dengan sebuah kebingungan?
Kenapa suatu kebaikan atau keburukan itu dikatakan sebagai sesuatu yang parsial?
Saya masih belum memahami arti dari sebuah metafisik, kenapa hakikat-hakikat, hakikat metode, hakikat etik dan hakikat estetik itu merupakan persamaan dari metafisik. Lalu metafisik itu sendiri memiliki makna apa?
Apakah belajar sinonim dalam filsafat itu juga bermakna antonim? Karena setelah saya membaca kunci jawaban quiz 2, banyak kata yang bermakna kebalikannya. Seperti ruang=waktu, waktu=ruang, fatal=vital, vital=fatal, idealita=realita, realita=idealita, tunggal=bagian, bagian=universal, salah=benar, sekarang=lampau, lampau=sekarang.
Setelah membaca tulisan “HAKEKAT KEBENARAN”, kenapa kebenaran fiksi disebut juga sebagai kebenaran bebas, apa sebenarnya makna dari kebenaran bebas? dan seperti apa contoh kebenaran bebas di lingkungan kehidupan kita?
Setelah membaca tulisan “GAGAK SETA”, sebenar-benar diriku adalah pikiranmu. Tetapi bukankah manusia itu lebih mudah untuk berfikir negatif dibanding positif untuk menghadapi suatu keadaan. Lalu bagaimana dengan statemen tersebut yang mengatakan sebenat-benar diriku adalah pikiranmu, apa berfikir negatifpun ada benarnya di dalam filsafat?
Bagaimana membiasakan diri otak untuk selalu dapat berfikir seperti saat keadaan kepepet? atau bagaimana agar bisa berfikir out of the box? sehingga cepat mengambil solusi dalam situasi apapun.
Setelah membaca tulisan “ANTI FOUNDATIONALISME”, Apakah ada hubungannya antara orang yang sedang mati suri dengan intuisi dua satu. Yang mana intuisi dua satu ini dikatakan setengah ingat dan setengah sadar?
Bagaimana cara untuk membiasakan diri agar hati dan pikiran selalu berjalan beriringan?
Batas dari filsafat adalah spiritualisme dan segala hal di dunia ini memiliki landasan (foundationalisme). Bagaimana filsafat memandang orang yang tidak punya agama atau atheis dilihat 2 dari segi spiritualisme dan foundationalisme?
Setelah membaca tulisan “ATMOSPIR”, bagaimana menghidupkan atmosphir di dalam diri kita, ketika kita berada dalam keadaan yang sangat terpuruk?
Jika tidak ada surga dan neraka, apakah manusia masih mau untuk berbuat kebaikan? Bagaimana hal ini dilihat dari sudut pandang filsafat?
Setelah membaca tulisan “PERADABAN DUNIA”, ada istilah tentang fenomena comte. Fenomena comte ini sudah banyak terjadi dikehidupan kita. Bagaimana caranya meminimalisir fenomena comte yang terjadi di masyarakat? Sehingga kita tidak terus menerus menjadi obyek dari dunia power now.
Setelah membaca tulisan “ROMANTISME”, Apakah cinta itu selalu ditandai dengan romantisme? Jika seseorang tidak romantis apakah itu bukan cinta?

Alhamdulilah blogspot ibu dapat menambah pengetahuan saya, terimakasih ibu :)
BalasHapusAlhamdulillah sangat bermanfaat
BalasHapus